MUSLIMAH IDEAL BAGI MILLENNIAL
Oleh: Evi Pebriana dan Hidayatul Azqia
Konsep
muslimah inspiratif pernah di bahas dalam buku berjudul “The Perfect Muslimah”
karya Ahmad Rifa’i Rif’an yang juga seorang penulis best seller Man
Sabara Zafira. Buku yang terbit tahun 2012 tersebut bercerita tentang
beragam kisah inspiratif muslimah dari berbagai latar belakang dan keunikannya.
Menurut buku tersebut, muslimah yang ideal
ialah muslimah yang brilian otaknya, suci cintanya, luas pengaruhnya,
indah akhlaknya, teduh parasnya, dan teguh imannya. Pertama, brilian otaknya berarti berani untuk mencoba hal yang
hebat atau baru. Kedua, suci cintanya yakni mencintai serta menghormati orang
tua lebih dari apapun. Ketiga, luas pengaruhnya yakni berarti seorang muslimah
tidak hanya dipersiapkan perkasa untuk dirinya sendiri namun juga untuk orang
lain seperti menjadi teladan hebat bagi anak-anaknya. Keempat, Indah akhlaknya
salah satunya yakni dengan belajar mandiri. Terakhir yakni teguh imannya,
seorang muslimah yakin terhadap Zat yang maha penolong (Allah AWT), keyakinan
itu membuat seorang muslimah dapat bertahan di lingkungan yang mungkin berat.
Seorang
muslimah ideal yang dikisahkan dalam buku The
Perfect Muslimah menjadi inspirasi bagi banyak kaum hawa. Seperti kisah
seorang gadis yang memiliki pengaruh besar tidak hanya untuk dirinya sendiri
namun juga orang-orang disekitarnya. Hidayatul Azqia,
yah itulah nama terbaik yang diberikan orang tuanya. Gadis yang baru saja
menginjak kepala dua itu lahir di Lombok tepatnya tanggal 2 Desember 1998.
Putri dari bapak H.Al-Mazkur dan ibu Liliyani itu pertama kali mengenyam
pendidikan formal di SDN 04 Masbagik, dilanjutkan dengan sekolah menengah
pertama di MTs N Model Selong, serta sekolah menengah atas di MAN 1 Lombok
Timur. Saat ini, Ia sedang menempuh pendidikan di kota hujan tepatnya di INSTITUT TAZKIA Bogor Sentul-City dengan beasiswa penuh dari pemerintah
NTB. Azkia mengambil program studi Manajemen Bisnis Syariah setelah sebelumnya
berjibaku dengan berbagai rintangan seperti terkendala restu dari orang tua
dikarenakan keterbatasan biaya, namun dengan tekad dan kegigihan yang kuat Ia
mampu meraih beasiswa dari pemerintah NTB. Prestasi yang membanggakan tersebut
tidak didpatkan dengan mudah, namun prestasi tersebut Ia dapatkan dari kerja
keras dan doa. Gadis berdarah Sasak itu memiliki minat organisasi yang tinggi,
diantaranya Ia pernah menjadi ketua Forum Anak Lombok Timur pada tahun 2014-2017,
sekertaris Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi tahun 2017-201 8, wakil
kepala divisi inovasi dan kajian Lombok Literaksi tahun 2018-2019, wakil ketua divisi Research and Devlopment KSEI Progres INSTITUT TAZKIA tahun 2018-sekarang. Selain itu, Azkia sapaan akrabnya juga
memiliki segudang prestasi yang cukup gemilang di bangku sekolah hingga dunia
perkuliahan. Diantaranya, peraih medali perak pada Olimpiade Ekonomi Nasional
201 6, pernah menjadi Duta Anak NTB 2015, Duta Sastra 2018, pemuda daerah
berpengaruh dari Lombok Timur 2018, delegasi Indonesia pada Asia World Model
United nations 201 9, juara 1 Jurnal 2018, juara 1 cerdas cermat ekonomi islam
2018, peraih penghargaan sebagai pemuda hebat Indonesia oleh Kementria Pemuda
dan Olahraga 2019 dan masih banyak lagi prestasi yang di torehkan gadis yang
suka memakai jilbap syar’i tersebut.
Kemampuannya dalam memenejemen antara akademik dan non akademik
mengantarkan Ia berprestasi dalam kedua bidang tersebut. Salah satunya dalam
bidang akademik Ia menjadi juara Umum di Man 1 Lombok Timur, tempat Ia banyak
menimba ilmu dan menemukan orang-orang luar biasa yang mampu memotivasi semangatnya
untuk terus maju. Seperti ketika Ia mendapatkan medali perak pada ajang KSM
(Kompetisi Sains Madrasah Nasional), awalnya Ia adalah siswa jurusan agama akan
tetapi Ia memiliki minat yang besar terhadap ekonomi terutama ekonomi berbasis
syariah, dengan ketekunannya itu Ia mampu menggeser teman-temanya yang notabene
jurusan ilmu sosial untuk kemudian mewakili NTB di ajang olimpiade nasional.
Menjadi anak pertama dari empat bersaudara, Ia lantas menjadi
tulang punggung keluarga dengan membiayai adiknya yang baru saja menginjak
sekolah menengah pertama. Sejak kecil Ia sudah memiliki jiwa pembisnis,
terlihat dari kemampuannya berdagang kecil-kecilan saat masih duduk di bangku
madrasah tsanawiyah (MTs), Ia tidak malu untuk menjual jilbab keliling, bubur,
pensil, soto, baju persatuan, mukenah di sekolah. Ketika teman-teman seusianya
asyik bermain dan belajar, Ia justru memikirkan bagaiamana cara mendapatkan
uang untuk keperluan pribadi dan orang tua. Salah satu yang memacu semangatnya
untuk menjadi pembisnis adalah keterbatasan ekonomi keluarga. Ayah yang
notabene sebagai pedagang keliling baju bekas pun turut menggembleng
karakternya untuk menjadi seorang yang percaya diri dalam memulai hal apapun,
salah satunya berbisnis. Saat ini, Azkia sedang merambah dunia kuliner yakni dengan
menggeluti usaha Sambal Raja Lombok yang Ia rintis sejak tahun 2018 lalu.
Menjadi intelektual dan pengusaha internasional adalah mimpi terbesarnya. Ia
meyakni bahwa dengan menjadi orang kaya, Ia akan lebih mudah untuk bersedekah
menyumbangkan rezekinya untuk orang yang membutuhkan, karena salah satu tujuan
Ia menjadi orang kaya adalah ingin bersedekah minimal dua juta perbulan.
Kisah tersebut dapat menjadi contoh muslimah ideal di masa depan. Seorang
muslimah yang baik seharusnya memiliki jiwa pantang menyerah walaupun di tengah
keterbatasan apapun itu, meyakini bahwa setiap orang yang berusaha pasti
diberikan kemudahan. Semoga muslimah yang ada di seluruh dunia dapat memberikan
inspirasi dan bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya, karena sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
#BESTAZKIA #instituttazkia #tazkiajuara
#BESTAZKIA #instituttazkia #tazkiajuara
#BESTAZKIA #instituttazkia #tazkiajuara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar