Peluang
Pemuda dalam Meningkatkan Literasi Keuangan melalui Kolaborasi guna Menuju
Indonesia Sejahtera
Oleh
: Hidayatul Azqia (Institut Tazkia)
Pemuda
merupakan aset terbesar yang dimilki oleh Indonesia saat ini, dan tentunya
sangat berarti untuk kemajuan bangsa di masa depan. Berdasarkan data dari BPS
(Badan Pusat Statistik) 63,82 Juta penduduk Indonesia adalah pemuda, hampir
seperempat penduduk Indonesia (24,15 %).[1]
Bahkan diperkirakan pada tahun 2045 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi,
sehingga jumlah usia produktif lebih besar dibandingkan jumlah penduduk tidak
produktif, dengan perbandingan 70% berbanding 30%.[2]
Mengingat banyaknya jumlah pemuda tentunya ini merupakan peluang yang besar
untuk kemajuan pembangunan di berbagai sektor di Indonesia, termasuk di sektor
keuangan diharapkan para pemuda menjadi garda terdepan dalam menciptakan
ekosistem ekonomi yang mumpuni di masa depan.
Mengingat tingkat literasi dan
inklusi keuangan di Indonesia masih berada pada angka 29,7% dan 67,8% secara berurutan,
hal ini mengartikan bahwa setengah dari pengguna layanan keuangan formal tidak
paham betul terhadap apa yang mereka gunakan, dan masih ada 32,2% masyarakat
Indonesia yang sama sekali belum memilki pengetahuan dan kecakapan financial.[3]
Maka sangat dibutuhkan peran pemuda dalam hal ini, mengingat sebagian besar
dari mereka adalah kalangan terpelajar. Selain itu, berdasarkan hasil survei
nasional literasi dan inklusi keuangan OJK tahun 2016, menunjukkan bahwa pemuda
berusia 18-35 tahun memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya secara nasional. Oleh sebab
itu dibutuhkan kolaborasi di antara kalangan pemuda guna mewujudkan target tingkat
inklusi keuangan 75% pada akhir 2019 berdasakan Strategi Nasional Keuangan
Inklusif (SNKI).
Dengan kolaborasi antara pemuda,
khususnya para mahasiswa di berbagai kampus di Indonesia akan mempermudah
target pencapaian Strategi Nasional Keuangan Inklusif, mengingat bahwa para
pemuda memilki banyak komunitas yang tentunya akan membuat hal tersebut semakin
mudah. Selain itu para pemuda juga sebagain besar paham teknologi.[4] Sehingga
bersama komunitas mereka dapat terjun langsung ke masyarakat, melakukan
kampanye nasional literasi keuangan dengan berbagai cara seperti di acara CFD (Car free Day) maupun menggunakan KTT
(Kaos, Totebag dan Tumblr) serta dengan teknologi yang
mereka milki, seperti smartphone yang
telah ada di genggaman, dapat digunakan untuk memberikan edukasi, melalui konten
kreatif di sosial media, tulisan di berbagai media elektronik dan tentunya
dapat melakukan kampanye dan literasi digital tentang literasi keuangan, karena
para pemuda telah benar-benar paham dengan semua ini. Literasi keuangan sangat
penting untuk membantu Indonesia mewujudkan cita-cita bangsa yakni
kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Literasi keuangan dapat memberikan
manfaat yang besar bagi masyarakat Indonesia seperti:
- Mampu memilih dan memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai kebutuhan; memiliki kemampuan dalam melakukan perencanaan keuangan dengan lebih baik.
2. Terhindar dari aktivitas investasi
pada instrumen keuangan yang tidak jelas.
3. Mendapatkan pemahaman mengenai
manfaat dan risiko produk dan layanan jasa keuangan
Selain itu literasi keuangan juga memberikan
manfaat yang besar terhadap sektor jasa keuangan. Lembaga keuangan dan
masyarakat saling membutuhkan satu sama lain sehingga semakin tinggi tingkat
literasi keuangan masyarakat, maka semakin banyak masyarakat yang akan
memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan.
Oleh sebab itu pemuda memilki
peluang yang sangat besar dalam membantu mewujudkan kesejahteraan masyarakat
Indonesia melalui literasi keuangan dengan melakukan kolaborasi dalam komunitas
di berbagai kampus Indonesia serta dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
#BESTAZKIA #instituttazkia #tazkiajuara
#BESTAZKIA #instituttazkia #tazkiajuara
#BESTAZKIA #instituttazkia #tazkiajuara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar